Leadership:
Teori Kepemimpinan
Kreiner menyatakan bahwa leadership adalah proses mempengaruhi
orang lain yang mana seorang pemimpin mengajak anak buahnya secara sekarela
berpartisipasi guna mencapai tujuan organisasi.
Sedangkan Hersey menambahkan bahwa leadership adalah usaha untuk mempengaruhi
individual lain atau kelompok. Seorang pemimpin harus memadukan unsur kekuatan
diri, wewenang yang dimiliki, ciri kepribadian dan kemampuan sosial untuk bisa
mempengaruhi perilaku orang lain.
Genetic Theory
Pemimpin adalah dilahirkan dengan membawa sifat-sifat kepemimpinan
dan tidak perlu belajar lagi. Sifat utama seorang pemimpin diperoleh secara
genetik dari orang tuanya.
Traits theory
Teori ini menyatakan bahwa efektivitas kepemimpinan tergantung pada karakter
pemimpinnya. Sifat-sifat yang dimiliki antara lain kepribadian, keunggulan
fisik, dan kemampuan sosial. Karakter yang harus dimiliki seseorang manurut
judith R. Gordon mencakup kemampuan istimewa dalam:
- Kemampuan Intelektual
- Kematangan Pribadi
- Pendidikan
- Statuts Sosial Ekonomi
- Human Relation
- Motivasi Intrinsik
- Dorongan untuk maju
Ronggowarsito menyebutkan seorang pemimpin harus memiliki astabrata, yakni
delapan sifat unggul yang dikaitkan dengan sifat alam seperti tanah, api,
angin, angkasa, bulan, matahari, bintang.
Behavioral Theory
Karena ketyerbatasan peramalan efektivitas kepemimpinan melalui trait, para
peneliti mulai mengembangkan pemikiran untuk meneliti perilaku pemimpin sebagai
cara untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan. Konsepnya beralih dari siapa
yang memiliki memimpin ke bagaimana perilaku seorang untuk memimpin secara
efektif.
a. Authoritarian, Democratic & Laissez Faire
Penelitian ini dilakukan oleh Lewin, White & Lippit pada tahun 1930 an.
Mereka mengemukakan 3 tipe perilaku pemimpin, yaitu authoritarian yang
menerapkan kepemimpinan otoriter, democratic yang mengikut sertakan bawahannya
dan Laissez - Faire yang menyerahkan kekuasaannya pada bawahannya.
b. Continuum of Leadership behavior.
Robert Tannenbaum dan Warren H Schmidt memperkenalkan continnum of leadership
yang menjelaskan pembagian kekuasaan pemimpin dan bawahannya. Continuum membagi
7 daerah mulai dari otoriter sd laissez - faire dengan titik dengan demokratis.
c. Teori Employee Oriented and Task Oriented Leadership - Leadership style
matrix.
Konsep ini membahas dua orientasi kepemimpinan yaitu
- Kepemimpinan yang berorientasi pada pekerjaan dimana perilaku pemimpinnya
dalam penyelesaiannya tugasnya memberikan tugas, mengatur pelaksanaan,
mengawasi dan mengevaluasi kinerja bawahan sebagai hasil pelaksanaan tugas.
- Kepemimpinan yang berorientasi pada pegawai akan ditandai dengan perilaku
pemimpinnya yang memandang penting hubungan baik dan manusiawi dengan
bawahannya.
Pembahasan model ini dikembangkan oleh ahli psikologi industri dari Ohio State
University dan Universitas of Michigan. Kelompok Ohio mengungkapkan dua dimensi
kepemimpinan, yaitu initiating structure yang berorientasi pada tugas dan
consideration yang berorientasi pada manusia. Sedangkan kelompok Michigan
memakai istilah job-centered dan employee-centered.
d. The Managerial Grid
Teori ini diperkenalkan oleh Robert R.Blake dan Jane Srygley Mouton dengan
melakukan adaptasi dan pengembangan data penelitian kelompok Ohio dan Michigan.
Blake & Mouton mengembangkan matriks yang memfokuskan pada penggambaran
lima gaya kepemimpinan sesuai denan lokasinya.
Dari teori-teori diatas dapatlah disimpulkan bahwa behavioral theory memiliki
karakteristik antara lain:
- Kepemimpinan memiliki paling tidak dua dimensi yang lebih kompleks dibanding
teori pendahulunya yaitu genetik dan trait.
- Gaya kepemimpinan lebih fleksibel; pemimpin dapat mengganti atau memodifikasi
orientasi tugas atau pada manusianya sesuai kebutuhan.
- Gaya kepemimpinan tidak gifted tetapi dapat dipelajari
- Tidak ada satupun gaya yang paling benar, efektivitas kepemimpinan tergantung
pada kebutuhan dan situasi
Situational Leadership. Pengembangan teori ini merupakan penyempurnaan dari
kelemahan-kelemahan teori yang ada sebelumnya. Dasarnya adalah teori
contingensi dimana pemimpin efektif akan melakukan diagnose situasi, memilih
gaya kepemimpinan yang efektif dan menerapkan secara tepat.
Empat dimensi situasi secara dinamis akan memberikan pengaruh terhadap
kepemimpinan seseorang.
- Kemampuan manajerial : kemampuan ini meliputi kemampuan sosial, pengalaman,
motivasi dan penelitian terhadap reward yang disediakan oleh perusahaan.
- Karakteristik pekerjaan : tugas yang penuh tantangan akan membuat seseorang
lebih bersemangat, tingkat kerjasama kelompok berpengaruh efektivitas
pemimpinnya.
- Karakteristik organisasi : budaya organisasi, kebijakan, birokrasi merupakan
faktor yang berpengaruh pada efektivitas pemimpinnya.
- Karakteristik pekerja : kepribadian, kebutuhan, ketrampilan, pengalaman bawahan
akan berpengaruh pada gaya memimpinnya.
a. Fiedler Contingency model
Model ini menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektif tergantung
pada situasi yang dihadapi dan perubahan gaya bukan merupakan suatu hal yang
sulit.
Fiedler memperkenalkan tiga variabel yaitu:
- task structure : keadaan tugas yang dihadapi apakah structured task atau
unstructured task
- leader-member relationship : hubungan antara pimpinan dengan bawahan, apakah
kuat (saling percaya, saling menghargai) atau lemah.
- Position power : ukuran aktual seorang pemimpin, ada beberapa power yaitu:
-> legitimate power : adanya kekuatan legal pemimpin
-> reward power : kekuatan yang berasal imbalan yang diberikan pimpinan
-> coercive power : kekuatan pemimpin dalam memberikan ancaman
-> expert power : kekuatan yang muncul karena keahlian pemimpinnya
-> referent power : kekuatan yang muncul karena bawahan menyukai pemimpinnya
-> information power : pemimpin mempunyai informasi yang lebih dari
bawahannya.
b. Model kepemimpinan situasional 'Life Cycle'
Harsey & Blanchard
mengembangkan model kepemimpinan situasional efektif dengan
memadukan tingkat kematangan anak buah dengan pola perilaku yang dimiliki
pimpinannya.
Ada 4 tingkat kematangan bawahan, yaitu:
- M 1 : bawahan tidak mampu dan tidak mau atau tidak ada keyakinan
- M 2 : bawahan tidak mampu tetapi memiliki kemauan dan keyakinan bahwa ia bisa
- M 3 : bawahan mampu tetapi tidak mempunyai kemauan dan tidak yakin
- M 4 : bawahan mampu dan memiliki kemauan dan keyakinan untuk menyelesaikan
tugas.
Ada 4 gaya yang efektif untuk diterapkan yaitu:
- Gaya 1 : telling, pemimpin memberi instruksi dan mengawasi pelaksanaan tugas
dan kinerja anak buahnya.
- Gaya 2 : selling, pemimpin menjelaskan keputusannya dan membuka kesempatan
untuk bertanya bila kurang jelas.
- Gaya 3 : participating, pemimpin memberikan kesempatan untuk menyampaikan
ide-ide sebagai dasar pengambilan keputusan.
- Gaya 4 : delegating, pemimpin melimpahkan keputusan dan pelaksanaan tugas
kepada bawahannya.
Transformational Leadership
Robert house menyampaikan teorinya bahwa kepemimpinan yang efektif menggunakan
dominasi, memiliki keyakinan diri, mempengaruhi dan menampilkan moralitas
tinggi untuk meningkatkan karismatiknya. Dengan kharismanya pemimpin
transformational akan menantang bawahannya untuk melahirkan karya istimewa.
Langkah yang dilaksanakan pemimpin ini biasanya membicarakan dengan pengikutnya
bagaimana pentingnya kinerja mereka, bagaimana bangga dan yakinnya mereka
sebagai anggota kelompok, bagaimana istimewanya kelompok yang akan menghasilkan
karya luar biasa.
Beberapa contoh pemimpin transformational Lee Lacoca, Jack Welch
Tidak ada komentar:
Posting Komentar